Nikotin Juga Ada di Sayuran
- Jan 18, 2018
- 4 min read
PT Rifan Financindo || Sepertiga penduduk Indonesia ditengarai merupakan perokok aktif. Indikasinya, antara 1995 sampai 2013, perokok berusia 10-14 tahun meningkat dari 0,5 persen menjadi 4,8 persen dan perokok berusia 15-19 tahun meningkat dari 13,7 persen menjadi 37,3 persen. Prevalensi perokok aktif di perdesaan berjumlah dua kali di perkotaan.

Jika mendengar istilah nikotin maka biasanya yang muncul dalam ingatan masyarakat adalah salah satu kandungan berbahaya yang terdapat dalam produk tembakau. Persepsi ini nyatanya masih cukup kuat melekat dalam benak masyarakat luas. Hal ini dikarenakan sebagian dari kita belum memahami betul mengenai apa sebenarnya nikotin itu sehingga dikatakan berbahaya. ''Masih banyak simpang siur dan kesalahpahaman di masyarakat tentang komponen atau senyawa berbahaya dari konsumsi produk tembakau. Masyarakat juga percaya bahwa zat yang paling berbahaya dari konsumsi produk tembakau adalah nikotin, padahal hal itu salah,'' ujar Dr. drg. Amaliya, MsSc., PhD, Tim peneliti dari Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia. Hal ini, lanjutnya, menimbulkan kekeliruan persepsi dari pengertian nikotin itu sendiri. ''Padahal berdasarkan kajian ilmiah, komponen berbahaya yang memicu berbagai penyakit seperti jantung, kanker, dan paru-paru adalah senyawa hasil pembakaran yang disebut dengan TAR,'' imbuh dia. Nikotin, kata Amaliya, merupakan zat adiktif yang mengakibatkan kecanduan jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. ''Tidak hanya dalam produk tembakau, nikotin juga terkandung dalam sayuran, seperti kembang kol, kentang, terung, dan tomat. Meskipun, belum banyak yang mengetahuinya,'' jelas dia. Lantas, sebenarnya apa perbedaan antara nikotin dan TAR? Mana yang sebenarnya berbahaya?. Merujuk pada penggolongan senyawa, nikotin adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan, seperti suku terung-terungan (solanaceae), tembakau, dan tomat serta kafein. Senyawa kimia alkaloid ini memiliki efek kuat dan bersifat stimulan terhadap tubuh manusia. ''Jika dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka panjang, nikotin akan menyebabkan efek kecanduan. Namun, tidak memicu berbagai penyakit yang biasa disebutkan pada kemasan rokok,'' lanjut Amaliya. Sedangkan, TAR adalah senyawa kimia dan kumpulan bahan kimia yang akan beredar dalam asap hasil pembakaran. Selain rokok, TAR juga dihasilkan dari pembakaran batubara, minyak bumi, gambut, dan kayu. TAR yang dihasilkan dari proses pembakaran nyatanya jauh lebih berbahaya, termasuk yang dihasilkan dari pembakaran produk tembakau. Hal ini juga yang menjadi permasalahan yang tak kunjung menemukan solusi di Indonesia. Ketidakpahaman akan nikotin dan TAR inilah yang menurut Amaliya membuat inovasi yang kini mulai mengemuka kurang mendapatkan respon yang baik dari masyarakat luas dan pemerintah. Bagi konsumen produk tembakau, terutama produk tembakau yang dibakar sudah mulai mengenal jenis produk tembakau alternatif yang mulai tren sejak tahun 2013, yakni rokok elektrik atau biasa disebut vape, nikotin tempel, snus, serta produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar yang memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan produk tembakau yang dibakar. ''Tren ini muncul bukan tanpa alasan. Pasalnya, perilaku ketergantungan masyarakat terhadap produk tembakau dibakar merupakan salah satu permasalahan klasik yang hingga saat ini belum menemukan solusinya, terutama di Indonesia,'' kata dia. Tidak hanya sekadar menjadi tren yang dikonsumsi sebagai bagian dari gaya hidup, produk tembakau alternatif juga didukung oleh berbagai hasil penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah. YPKP Indonesia secara independen telah melakukan penelitian terhadap salah satu produk tembakau alternatif yaitu rokok elektrik atau vape. Hasilnya, vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. ''Hal tersebut dapat terjadi karena dalam konsumsinya, vape menggunakan teknologi yang dipanaskan bukan dibakar. Sehingga TAR, senyawa karsinogenik berbahaya, hasil pembakaran rokok bisa dieliminasi,'' jelas dia. Amaliya juga menjelaskan, sari hasil profil kromatografi atas kajian cairan dan uap vape yang telah diteliti selama enam bulan memperlihatkan adanya kandungan UP Propylene Glycol, USP Glycerin Natural/Vegetable, dan perasa pada cairan vape. ''Karenanya, vape menjadi jauh lebih rendah risiko kesehatannya dibandingkan rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar,'' ungkap dia. Beberapa hasil penelitian yang membuktikan hal serupa yaitu hasil penelitian dari Public Health England (PHE) sebuah badan kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan Inggris Raya. Pada tahun 2015, hasil penelitian PHE menunjukkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan dapat menurunkan risiko kesehatan hingga 95 persen. Selain itu, sebuah studi dari Georgetown University Medical Center Amerika Serikat yang diterbitkan dalam jurnal Tobacco Control turut mengungkapkan bahwa jika perokok beralih ke produk tembakau alternatif, sebanyak 6,6 juta orang di Amerika Serikat berpotensi dapat terhindarkan dari kematian dini. Jika angka ini diterjemahkan ke Asia, khususnya Indonesia yang saat ini memiliki angka perokok yang sedemikian tinggi, dapat dibayangkan berapa besar potensi jutaan jiwa yang bisa diselamatkan. Bagi para pakar kesehatan internasional, kehadiran produk tembakau alternatif merupakan salah satu inovasi kesehatan terpenting, karena dapat secara efektif menurunkan risiko penggunaan rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar. Tidak menutup kemungkinan juga dapat menjadi solusi atas permasalahan perilaku ketergantungan masyarakat terhadap produk tembakau yang dikonsumsi dengan cara bakar di Indonesia. || PT Rifan Financindo ||
Baca juga : PT RIFAN FINANCINDO | Sosialisasi Perdagangan Berjangka Harus Lebih Agresif: Masih Butuh Political Will Pemerintah PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Rifan Financindo Berjangka Gelar Sosialisasi Cerdas Berinvestasi PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA DBS TOWER | PT Rifan Financindo Berjangka Buka Workshop Apa Itu Perusahaan Pialang, Masyarakat Harus Tahu RIFAN FINANCINDO | Kerja Sama dengan USU, Rifan Financindo Siapkan Investor Masa Depan PT RIFAN | Bursa Berjangka Indonesia Belum Maksimal Dilirik Investor RIFANFINANCINDO | Rifan Financindo Intensifkan Edukasi RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Berburu keuntungan berlimpah melalui industri perdagangan berjangka komoditi RIFAN | Rifan Financindo Optimistis Transaksi 500.000 Lot Tercapai PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Sharing & Diskusi Perusahaan Pialang Berjangka PT. RFB PT.RIFAN | PT Rifan Financindo Berjangka Optimistis PBK Tetap Tumbuh di Medan RIFAN BERJANGKA | Bisnis Investasi Perdagangan Berjangka Komoditi, Berpotensi tapi Perlu Kerja Keras PT.RIFAN FINANCINDO | JFX, KBI dan Rifan Financindo Hadirkan Pusat Belajar Futures Trading di Kampus Universitas Sriwijaya PT RIFANFINANCINDO | RFB Surabaya Bidik 250 Nasabah Baru hingga Akhir Tahun PT RFB | PT RFB Gelar Media Workshop PT RIFANFINANCINDO BERJANGKA | Mengenal Perdagangan Berjangka Komoditi, Begini Manfaat dan Cara Kenali Penipuan Berkedok PBK RFB || RFB Masih Dipercaya, Transaksi Meningkat






Comments